|
2. Upaya
Persiapan
Tiga langkah persiapan tidak harus dikerjakan secara berurutan, yakni
Langkah
1 (MELIHAT PERUSAHAAN SEBAGAI SUATU SISTEM) Anda harus dapat memandang
perusahaan anda sebagai suatu sistem dan harus dapat melihat bagaimana
perusahaan atau unit organisasi sesuai dengan model.
Langkah
2 (MENGENAL SISTEM LINGKUNGAN) Hubungan perusahaan atau organisasi
dengan lingkungannya juga merupakan suatu hal yang penting. Delapan unsur
lingkungan yang telah kita bahas pada bab 2 memberikan suatu cara yang
efektif dalam memosisikan perusahaan sebagai suatu sistem dalam
lingkungannya.
Langkah
3 (MENGIDENTIFIKASI SUBSISTEM PERUSAHAAN) Subsistem utama perusahaan
dapat mengambil beberapa bentuk. Bentuk termudah yang dapat dilihat oleh
manajer adalah area-area bisnis.Seperti pada gambar dibawah ini:
3. Upaya
Definisi
Upaya definisi biasanya dirangsang oleh suatu pemicu masalah (problem
trigger). Pada kebanyakan kasus, pemicunya adalah respons terhadap gejala
suatu masalah dan biasanya lebih jelas dari pada akar permasalah
itu sendiri. Gejala (symptom) adalah suatu kondisi yang ditimbulkan oleh
masalah dan biasanya lebih jelas dari pada akar masalah tersebut. Manajer atau
seseorang yang ada didalam unit manajer mengidentifikasikan masalah atau
gejalanya. Setelah masalah teridentifikasi, manajer dapat menghubungi seorang
analis sistem untuk membantunya dalam menghadapi masalah.
· Langkah
4 (MELANJUTKAN TINGKAT SISTEM KE TINGKAT SUBSISTEM)
Ketika
manajer mencoba untuk memahami masalah, analis akan memulai pada sistem yang
menjadi tanggung jawab manajer tersebut. Analisis kemudian dilanjutkan menuju
ke bawah hierarki sistem, tingkat demi tingkat. Selanjutnya manajemen menganalisis
sistem dilihat dari subsistem-subsistemnya. Tujuannya adalah untuk
mengidentifikasi tingkat sistem dimana terdapat penyebab terjadinya masalah.
· Langkah
5 (MENGANALISIS BAGIAN SISTEM DALAM URUTAN TERTENTU)
Seiring
dengan manajer yang mempelajari masing-masing tingkat sistem, unsur-unsur
sistem juga dianalisis secara berurutan. Urut-urutan unsur sistem seperti
gambar dibawah ini.
4. Upaya
Solusi
· Langkah
6 (MENGIDENTIFIKASIKAN SOLUSI-SOLUSI ALTERNATIF)
Manajer
mengidentifikasi cara-cara yang berbeda untuk memecahkan masalah yang sama.
Terdapat tiga solusi alternatif yang diidentifikasi: (1) menambahkan lebih
banyak alat ke komputer yang sudah ada untuk meningkatkan kapasitas dan
kecepatannya; (2) mengganti komputer yang ada dengan komputer yang lebih
besar; (3) mengganti komputer yang ada dengan LAN komputer-komputer yang
lebih kecil.
· Langkah
7 (MENGEVALUASI SOLUSI-SOLUSI ALTERNATIF)
Semua
alternatif harus dievaluasi dengan menggunakan kriteria evaluasi yang sama,
yang mengukur seberapa satu alternatif akan memecahkan masalah.
· Langkah
8 (MEMILIH SOLUSI YANG TERBAIK)
Setelah
mengevaluasi alternatif-alternatif, Henry Mintzberg seorang teoritikus
manajemen, mengidentifikasikan tiga cara yang dilakukan oleh manajer dalam memilih
alternatif yang terbaik, yakni: Analisis, Pertimbangan, Tawar-menawar
A. SIKLUS
HIDUP PENGEMBANGAN SISTEM
Pendekatan
sistem merupakan sebuah metodologi. Metodologi adalah satu cara yang
direkomendasikan dalam melakukan sesuatu. Siklus hidup npengembangan sistem
(Systems development life cycle - SDLC) adalah aplikasi dari pendekatan
sistem bagi pengembangan suatu sistem informasi.
B. SLDC
TRADISIONAL
SLDC
tradisional sering juga disebut juga sebagai pendekatan air terjun (waterfall
approach). Tidak dibutuhkan waktu lama bagi seorang pengembang sistem yang
pertama untuk mengetahui bahwa terdapat beberapa tahapan pekerjaan
pengembangan yang perlu dilakukan dalam urut-urutan tertentu jika suatu
proyek memiliki kemungkinan berhasil yang paling besar. Tahapan-tahapan
tersebut adalah:
a. Perencanaan
b. Analisis
c. Desain
d. Implementasi
e. Penggunaan
|
Pola
Melingkar dari Siklus Hidup Sistem
|
|
Figur
yang akan ditunjukkan dibawah ini mengilustrasikan sifat melingkar dari siklus
hidup. Ketika sebuah sistem melampaui masa manfaatnya dan harus diganti, satu
siklus hidup baru akan dimualai dengan awali boleh tahap perencanaan.
D. PROTOTYPING
Seiring
dengan bertambahnya ukuran dan kompleksitas suatu sistem, melewati tahapan-tahapan
dengan sekali jalan menjadi suatu hal yang semakin tidak mungkin untuk
dilakukan. Para pengembang selalu melakukan looping kembali dan mengerjakan
ulang untuk mendapatkan sebuah sistem yang dapat memuaskan para penggunanya.
Dalam penerapannya dan pengembangan sistem, propotipe adalah satu versi dari
sebuah sistem potensial yang memberikan ide bagi para pengembang dan
calon pengguna. Proses pembuatan prototipe ini disebut prototyping.
1. Jenis-jenis
Prototipe
Terdapat
dua jenis prototipe yaitu prototipe evolusioner dan persyaratan. Prototipe
evolusioner terus-menerus disempurnakan sampai memiliki seluruh
fungsionalitas sampai yang dibutuhkan pengguna dari sistem yang baru.
Prototipe persyaratan dikembangkan sebagai satu cara untuk mendefinisikan
persyaratan-persyaratan fungsional dari sistem baru ketika pengguna
tidak mampu mengungkapkan dengan jelas apa yang mereka inginkan.
Pengembangan
prototipe evolusioner menunjukan empat langkah dalam pembuatan suatu
prototipe evolusioner. Empat langkah tersebut adalah:
Mengidentifikasi
kebutuhan pengguna
Membuat
satu prototipe
Menentukan
apakan prototipe dapat diterima
Menngunakan
prototipe
Berikut
adalah gambar pembuatan prototipe evolusioner:
Pengembangan
prototipe persyaratan memiliki tujuh langkah dalam pembuatan suatu prototipe
persyaratan. Tujuh langkah tersebut adalah:
Mengidentifikasi
kebutuhan pengguna
Membuat
satu prototipe
Menentukan
apakan prototipe dapat diterima
Membuat
kode sistem baru
Menguji
sistem baru
Menentukan
apakah sistem baru dapat diterima
Membuat
sistem baru menjadi sistem produksi
Berikut
adalah gambar dari pembuatan prototipe persyaratan:
1. Daya
tarik prototype
Pengguna
maupun pengembang menyukai prototyping karena alasan-alasan dibawah ini:
Membaiknya
komunikasi antara pengembangan dan pengguna
Pengembangan
dapat melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam menentukan kebutuhan pengguna
Pengguna
memainkan peran yang lebih aktif dalam pengembangan sistem
Pengembang
dan pengguna menghabiskan waktu dan usaha yang lebih sedikit dalam
mengembangkan sistem
Implementasi
menjadi jauh lebih mudah karena pengguna tau apa yang diharapkannya
2. Potensi
kesulitan dari prototipe
Kesulitan-kesulitan
dari prototipe antara lain:
Terburu-buru
dalam menyerahkan prototipe dapat menyebabkan diambilnya jalan pintas dalam
definisi masalah, evaluasi alternatif, dan dokumentasi. Jalan alternatif ini
akan menciptakan usaha-usaha yang “cepat dan kotor”.
Pengguna
dapat terlalu gembira dengan prototipe yang diberikan, yang mengarah pada
ekspektasi yang tidak realistis sehubungan dengan sistem produksi nantinya.
Prototipe
evolusioner bisa jadi tidak telalu efisien
Antarmuka
komputer manusia yang diberikan oleh beberapa alat prototyping tertentu
kemungkinan tidak mencerminkan teknik-teknik desain yang baik.
E. PENGEMBANGAN
APLIKASI CEPAT
Satu
metodologi yang memiliki tujuan yang sama dengan prototyping yaitu memberikan
respon yang cepat atas kebutuhan pengguna, namun dengan lingkup yang lebih
luas adalah RAD. RAD adalah kumpulan strategi, metodologi dan alat
terintegrasi yang terdapat didalam suatu kerangka kerja yang disebut rekayasa
informasi dan diperkenalkan oleh James Martin.
Gambar
diatas mengilustrasikan siklus hidup RAD menurut James Martin, yang menunjukkan
banyaknya upaya yang dikeluarkan oleh baik pengguna maupun spesialis
informasi. Pada figurdiatas pengguna memainkan peran penting kecuali dalam
tahap konstruksi. Semakin banyak keterlibatan pengguna, khususmya dalam tahp
awal-awal maka haltersebut memungkinkan sistem dikembangkan dengan lebih
cepat. Serah terima terjadi lebih cepat dalam RAD di bandingkan dengan dalam
siklus hidup tradisional.
Unsur-unsur
penting RAD
RAD
membutuhkan empat unsur penting yakni:
Manajemen,
khususnya manajemen puncak hendaknya menjadi penguji coba (eksperimen) yang
suka melakukan hal-hal dengan cara baru atau pengadaptasi awal yang dengan
cepat mempelajari bagaimana cara menggunakan metodologi-metodologi baru.
Orang,
RAD menyadari adanya efisiensi yang dapat dicapai melalui penggunaan tim-tim
khusus anggota dari tim ini adalah para ahli dari metodologi dan alat yang
dibutuhkan untuk melakukan tugas-tugas khusus mereka masing-masing. Martin
menggunakan istilah tim SWAT“skilled with advanced tools” (ahli dengan alat-alat
canggih)
Metodologi,
metodologi dasar RAD adalah siklus hidup RAD
Alat-alat,
alat-alat RAD terutama terdiri atas bahasa-bahasa generasi keempat dan
alat-alat rekayasa peranti lunak dengan bantuan komputer yang memfasilitasi
prototyping dan penciptaan kode.
F. PENGEMBANGAN
BERFASE
Satu
metodologi pengembangan sistem ini digunakan oeleh banyak perusahaan adalah
kombinasi dari SDLC tradisional, prototyping, dan RAD. SDLC tradisional
menyumbangkan urut-urutan tahapan yang logis, prototyping menyumbangkan
pengumpulan interaktif dari umpan balik para pengguna, dan RAD menyumbangkan
pemikiran bahwa keterlibatan pengguna meliputi partisipasi didalam
pengembangan. Pengembangan berfase adalah suatu pendekatan bagi pengembangan
sistem informasi yang terdiri atas enam tahap yakni investigasi awal,
analisis, desain, konstruksi awal, konstruksi akhir serta pengujian dan
pemasangan sistem.
Sumber
: http://dahlanrais.blogspot.co.id/2015/05/pengembangan-sistem.html
|
No comments:
Post a Comment